Oleh: poskebaktian | 20 Februari 2010

Dimampukan dalam kelemahan

DIMAMPUKAN DALAM KELEMAHAN
Lukas 4 : 1 -13

Istilah dimampukan pada kalimat judul di atas mengandung arti, setiap orang menyadari bahwa ia tidak dapat melakukan semua pekerjaan tanpa pertolongan Allah. Dengan demikian setiap kali ia dimampukan untuk melakukan sesuatu, ia memberikan semuanya bagi kemuliaan Allah.

Dengan terus-menerus bersandar pada kekuatan Allah, maka tak ada persoalan yang tak dapat teratasi karena kita dimampukan oleh-Nya “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).
Perikop Luk 4:1-13 mengingatkan agar kita selalu waspada terhadap godaan iblis.
Ada tiga godaan yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Yang pertama adalah harta, dan yang kedua adalah kekuasaan. Untuk mendapatkan harta (materi) atau kekuasaan orang seringkali tidak segan-segan melakukan apapun alias menghalalkan segala cara, termasuk pergi ke dukun agar ia memperoleh jabatan yang strategis di tempat kerjanya`
Menjadi kaya ataupun mempunyai kekuasaan tentu saja tidak salah. Kedua hal tersebut dapat kita pergunakan sebagai berkat bagi sesama, sebagaimana diamanatkan kepada segenap umat kristiani. Yang salah, sebagaimana yang diungkapkan pada godaan ke-3 adalah bila dengan harta dan kuasa yang dimilikinya, seseorang kemudian merasa dirinya sebagai yang paling dikasihi oleh Tuhan dan mulai men”coba”i Tuhan. Bahkan lebih jauh lagi, apabila harta atau kekuasaannya begitu besar, seseorang seringkali terpancing untuk “playing like God”.
Mengingat akan potensi kelemahan di atas maka manusia merasa bila tak ada harta atau kuasa manusia merasa dirinya miskin tak memiliki kekuatan apapun. Manusia merasa hidupnya tak berarti lagi. Manusia mengasingkan diri dan menutup diri, bahkan tak segan untuk bunuh diri. Padahal tidak selamanya begitu, mari kita coba mendalami sikap dan perilaku Yesus, dan mendapatkan bahwa yang paling mengesankan dari diri-Nya adalah ketekunan-Nya untuk mendahulukan kaum miskin, lemah dan terlantar. Yesus juga bersikap terbuka terhadap semua orang yang dijumpai-Nya dengan memusatkan perhatian pada golongan rendah. Kehadiran Yesus memberi teladan kepada kita agar melakukan aksi yang riil untuk berinteraksi langsung dengan kaum miskin. Dari gambaran sikap dan perilaku Yesus terhadap orang miskin, kita tahu bahwa orang miskin, dan kemiskinan, bagi Yesus, tidak sama dengan tanpa kekuatan. Bagi Yesus kemiskinan dan merasa miskin bukan berarti orang hidup tanpa ucapan syukur, tapi perjuangan menghindarkan diri dari berbagai godaan dan cobaan ketamakan, kekuasaan, dan kesombongan.
Di sisi lain, hal yang menarik adalah fakta bahwa Yesus yang hadir ke tengah-tengah dunia, sama dengan mempermiskin diri-Nya. Ia Yang Mahakaya justru memposisikan diriNya sebagai Orang Miskin, solidaritas pada kemiskinan manusia. Ia tidak pernah merasa hidupNya di dunia ini yang tanpa uang, tanpa kekuasaan duniawi, tanpa kesombongan, dan menuntut diperlakukan sebagai Allah, sebagai hidup dalam kemiskinan. Dengan sikap dan prinsip itulah Yesus mengajar agar setiap orang percaya agar “berjuang dalam jalan Allah” atau “berjuang bersama Allah” membebaskan diri dari belenggu perasaan dipermiskin. Hidup ini menjadi semakin miskin jika dibelenggu oleh uang atau harta, dijerat penyalahgunaan kekuasaan, dan menodai kekudusan Tuhan dengan menjadikan diri seperti Tuhan Allah. Manusia dan kita semua adalah miskin jika memusatkan diri pada harta, kekuasaan, dan keinginan menjadi seperti Tuhan Allah. Tanpa semua hal di atas saja kita sudah miskin, apalagi jika masih terjerat oleh semua faktor, yaitu keserakahan akan uang – gila kekuasaan – keinginan menjadi seperti Tuhan Allah, penyebab kemiskinan. Kemalangan yang amat malang. Dalam hal mengatasi perasaan miskin itu, kita perlu hidup dalam perjuangan bersama, dalam doa, dan dalam firman Tuhan, untuk menegakkan keadilan dan mempertahankan kesejahteraan di dalam Kristus Yesus. Itu semua bisa kita mulai dari diri sendiri terlebih dulu, sebagai orang yang diperkaya atau dimampukan mengatasi perasaan miskin agar memenuhi diri dengan ucapan syukur akan segala berkat dan penyertaan Tuhan Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: